Prinsip belajar dalam perspektif Al-Qur’an
A. A. Sumber-sumber ilmu
Ilmu yang datang dari sumber ilahiah adalah ilmu yang secara langsung datang dari Allah SWT melalui wahyu, ilham atau mimpi yang benar.sedangkan ilmu yang datang dari sumber insaniah adalah ilmu yang dipelajari manusia dari pengalaman-pengalaman pribadinya.
B. Belajar bahasa
Bahasa adalah onstrumen pokok bagi manusia dalam berfikir, memperolah pengetahuan dan menghasilkan berbagai ilmu. Ketika bahasa memiliki tingkat urgensi yang besar dalam kehidupan manusia serta membuat manusia mampu menggapai kemajuan yang berkesinambungan dalam belajar dan berfikir sebagai contoh Allah SWT mengajarkan pada Nabi Adam as adalah nama-nama segala sesuatu (QS.Al-Baqarah(2):31-32)
C. Belajar memilih dan membuat keputusan
Allah SWT juga berkehendak mengajari kedua leluhur kita, Adam as dan Hawa as beberapa kebiasaan berperilaku yang bermanfaat dalam kehidupan mereka serta memikul tanggung jawab atas pilihan-pilihan yang diambilnya. Yang jelas, belajar seperti itu sangat penting untuk melatih kedua leluhur kita, Adam as dan Hawa as serta mempersiapkan mereka untuk kehidupan selanjutnya di muka bumi.
D. Cara-cara belajar menurut Al-Qur’an1. Meniru (imitation)
Manusia akan belajar banyak perilaku dan kebiasaannya pada fase awal kehidupannya dengan cara meniru kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya serta para gurunya. Ia, misalnya mulai belajar bahasa dengan mengucapkan beberapa patah kata ia juga akan belajar jalan dengan mencoba meniru. Nabi Muhammad SAW adalah teladan yang baik bagi sahabat-sahabatnya. Mereka belajar dari beliau cara menjalankan peribadatan. Misalnya melihat beliau berwudlu, sholat dan menjalankan manasik haji.
2. Pengalaman praktis trial and error
Al-Qur’an memacu manusia untuk mengadakan perjalanan di bumi serta mengamati dan memikirkan ayat-ayat Allah SWT yang ada di alam semesta. Nabi Muhammad SAW telah mengisyaratkan pentingnya belajar dari pengalaman pratis dalam kehidupan. Diriwayatkan dari thalhah bin Abdillah, bersama Rasulullah SAW saya pernah lewat didepan orang-orang yang tengah berada diatas pohon kurma. Lalu beliau berkata, apa yang sedang mereka lakukan? Beberapa orang menjawab bahwa mereka sedang mengawinkan pohon kurma dengan cara meletakkan serbuk sari pada butinya, Rasulullah berkat “ aku kira hal itu tak bermanfaat apa-apa, kemudian hal itu diberitahukan kepada orang-orang tersebut sehingga merekapun menghentikannya. Kejadian itu saya sampaikan kepada Rasulullah SAW. Beliau pun berkata, “jika hal itu memang bermanfaat bagi mereka lakukanlah, sebab aku hanya mengira-ngira saja, dan kalian jangan sampai menyalahkanku berkaitan dengan perkiraan itu. Namun jika engkau menyampaikan suatu hal dari Allah SWT kepada kalian, terimalah sebab aku tak akan berdusta atas nama Allah SWT. Dalam riwayat lain mengatakan, kalian lebih mngetahui urusan dunia kalian (QS.Ar Rum (30):7)
3. Berpikir
Jadi dengan berpikir, seseorang belajar membuat solusi baru atas berbagai persoalan. Dengan berpikir, seseorang juga dapat mengungkapkan korelasi antara berbagai objek dan peristiwa, menelurkan prinsip dan teori baru, serta menemukan berbagai penemuan baru. Oleh karena itu para psikolog menyebut proses berpikir seagai proses belajar tinkat tinggi. Diskusi, dialog dan konsultasi para pemikir merupakan faktor yang dapat membantu memperjelas sebuah pemikiran. Cara ini dapat mengarah pada penemuan kebenaran serta mengantarkan pada solusi yang tepat atas permasalahan yang sednag dikaji. Al-Qur’an juga mendorong permusyawaratan serta memuji keutamaan kaum mukminin yang mengadakan musyawarah berkaitan dengan persoalan mereka dengan harapan sampai pada kebenaran dan mampu mewujudkan keadilan dimasyarakat.
E. Prinsip-prinsip belajar menurut Al-Qur’an
Apabila kita mempelajari metode yang dipergunakan Al-Qur’an dalam mendakwahkan keyakinan tauhid, mendidik kaum mukminin, serta menanamkan prinsip dan nilai-nilai keislaman pada diri mereka, niscaya kita dapat menggali beberapa prinsip penting yang berkenaan dengan proses pembelajaran yang digunakan Al-Qur’an antara lain :
1. Motivasi
Apabila ada motivasi kuat untuk meraih tujuan tertentu dan kondisi yang sesuai pin berkembang, orang akan mencurahkan kesungguhannya untuk mempelajari metode-metode yang tepat untuk meraih tujuan tersebut. Al-Qur’an menggunakan metode dalam membangkitkan motivasi dengan menggunakan metode tarqib dan tarhib (reward and punishment)
· Membangkitkan motivasi melalui tarqib
Kaum muslimin dipengaruhi oleh dua motivasi kuat yaitu: pertama, harapan akan rahmat Allah SWT yang mendorong mereka utnuk melaksanakan ibadah, tugas dan semua yang diperintahkan syariat. Kedua, takut akan azab Allah SWT yang mendoron mereka untuk menghindari perbuatan dosa, maksiat dan semua yang dilarang syari’at.
· Membangkitkan motivasi dengan cerita
Cerita telah menjadi sarana penting yang digunakan Al-Qur’an untuk membangkitkan motivasi belajar, sebab cerita dapat menimbulkan stimulus dan menghadirkan perhatian. Al-Qur’an menebarkan informasi-informasi tenteng para Nabi dan Rasul terdahulu yang hendak disampaikan kepada mereka serta memperingatkan mereka akan seburuk-buruk tempat kembali yang telah menimpa orang-orang kafir dari umat-umat terdahulu.
· Memanfaatkan peristiwa-peristiwa penting
Faktor yang membantu membangkitkan motivasi dan perhatian adalah terjadinya beberapa peristiwa atas masalah penting yang menggetarkan emosi manusia, menimbulkan perhatiannya, dan membuat sibuk pikirannya.
2. Pengulangan
Dalam al-Qur’an kita menemukan pengulangan mengenai beberapa kebenaran berkaitan dengan akidah dan perkara-perkara ghaib yang ingin diluluhkan Al-Qur’an didalam hati, seperti keyakinan tauhid.
3. Perhatian
Erhatian merupakan faktor penting dalam belajar misalnya dalam proses belajar mengajar (PBM) ia akan dapat memahami informasi-informasi yang terdapat dalam pengajaran itu. Lebih jauh lagi ia akan dapat mempelajari dan mengingat pelajaran itu untuk selanjutnya.
4. Partisipasi aktif
Ketrampilan motorik mengharuskan siswa melakukan ketrampilan tersebut secara sungguh-sungguh serta melatihnya hingga mahir. Latihan praktis tidak hanya penting dalam mempelajari ketampilan motorik saja, tetapi juga dalam mempelajari ilmu-ilmu teoritis yaitu dalam mempelajari akhlak, keutamaan, nilai-nilai dan etika bermasyarakat. Wudlu dan melaksankan sholat pada waktu-waktu tertentu setiap hari mengajari orang muslim kebersihan, ketaatan, keteraturan, kesabaran dan ketekunan. Shoum juga mengajari orang-orang muslim ketaatan dan kesabaran dalam menanggung kesulitan.
5. Pembagian belajar
Beberapa studi eksperimen yang diadakan para psikolog modern mengungkapkan bahwa belajar yang dihasilkan dengan menggunakan metode pembagian itu lebih utama ketimbang belajar yang dihasilkan dengan metode terpusat. Metode terpusat adalah metode belajar yang tuntas dalam rentang waktu yang bersambungan tanpa diselingi waktu istirahat. Prinsip ini sudah diterapkan dalam Al-Qur’an, sebab Al-Qur’an diturunkan dalam sela waaktu yang berjauhan dari rentang masa yang panjang sekitar 23 tahun. Hal itu menjadikan manusia dapat mempelajari Al-Qur’ab dengan gampang dan dapat memahami kandungannya. Jika Al-Qur’an diturunkan sekaligus, niscaya sulit untuk mempelajari serta memahami makna dan tujuan Al-Qur’an.
6. Perubahan perilaku secara bertahap
Melepaskan beberapa kebiasaan buruk yang sudah mengakar sekian lama sehingga kebiasaan buruk itu mendarah daging dalam perilaku kita bukanlah sesuatu yang enteng. Sebab, hal itu membutuhkan kemauan kuat, kesungguhan yang besar dan latihan yang panjang. Oleh sebab itu cara yang paling baik yang dapat diikuti untuk menanggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang sudah mengakar adalah berupaya untuk melepaskannya secara bertahap. Dalam memperbaiki kebiasaan-kebiasaan buruk islam mengikuti dua metode :
· Metode pertama : menagguhkan perbaikan kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut sampai keimanan menguat dalam kalbu orang-orang muslim
· Metode kedua : yang dipergunakan Al-Qur’an dalam memperbaiki kebiasaan-kebiasaan buruk adalah melatih kesiapan mental kaum muslimin untuk menanggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut. Ini dilakukan dengan jalan membentuk respons yang berlawanan secara bertahap dengan respons yang dituntut untuk dilepaskan.